Pages

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Februari 2015

Cerita Dalam Sketsa



Sang mentari tak menunjukkan tatapan menyilaukannya dari ufuk barat sore itu. Langit kelabu menjadi atap diatas atap sekolah yang berdiri megah di kota besar itu. Satu persatu murid melangkahkan kakinya keluar sekolah untuk kembali ke rumah masing-masing. Kegiatan belajar mengajar hari itu memang telah usai, kecuali kelas 12 yang masih PM dan beberapa murid kelas 10 dan 11 yang melaksanakan ekstra kurikuler. Tapi, tak hanya mereka, Ara dan Nina belum keluar dari sekolah itu juga.
“Ara, aku harus kerjain ulangan susulan Bahasa Indonesia dulu. Kamu pulang duluan aja ya.” kata Nina sambil merapikan bukunya di sebuah bangku panjang yang berada di koridor yang telah sepi itu.
“Aku tungguin kamu aja, lagian aku males di rumah. Gapapa, serius.”  kata Ara.
“Beneran? Sendirian loh kamu di sini.”
“Iya serius, sekalian numpang wifi di sini.”
“Ya udah, aku nggak lama-lama banget kok. Tunggu ya,”
“Okey.”
Nina masuk ke kantor guru untuk meminta soal ulangan susulannya. Sementara Ara duduk di bangku sambil asik mengutak-atik handphonenya.
Nina adalah sahabat baik Ara sejak mereka SMA. Meskipun mereka berbeda kelas, mereka terlihat selalu bersama-sama saat di luar kelas. Ara adalah siswi kelas X IIS 1, sedangkan Nina adalah siswi kelas X IIS 3.
Ara terlihat bosan memainkan handphonenya. Dia menengok ke sekelilingnya. Sepi. Hanya ada beberapa orang yang terlihat, tetapi jauh darinya. Dia menekan tombol kunci layar pada benda berwarna putih itu, kemudian dia membukanya kembali. Terlihat jelas angka 03:17 PM pada lock screen yang berbackground foto gambar dreamcatcher buatannya.
Tiba-tiba saja gambar dreamcatcher itu mengingatkannya pada sebuah benda di dalam tasnya. Ara langsung mengeluarkan benda yang berisi berbagai goresan indah pensil dan pena yang menari bersama tangan yang dianugerahi kemampuan menggambar itu. Ya, tentu saja benda itu adalah sketchbook milik Ara. Dia juga mengambil tempat pensilnya.
“Ini nih, penyibukkan diri yang nggak pernah bikin bosan. Menguras waktu tapi nggak bikin waktu terkuras sia-sia.” gumam Ara sambil mengeluarkan sebatang pensil dari tempat pensilnya. Senyum yang mengembang di wajahnya menyiratkan rasa senang saat dia melakukan penyibukkan diri itu, menggambar.
Dentingan jarum detik yang berlari mengiringi goresan-goresan indah yang terbentuk oleh pensil yang menari-nari di atas selembar kertas putih. Sepasang mata yang indah tertuju pada alur goresan pensil itu, menjaga agar alur goresan pensil itu tetap rapi. Entah apa yang Ara gambar, tapi keasyikkan sangat terasa dalam dirinya.
Sampai suatu suara merasuki telinga Ara, membuat tangan dan matanya berhenti mengatur alur goresan pensil itu. Bel sekolah pukul setengah empat sore berbunyi, menandakan PM kelas 12 usai. Suasana koridor mulai ramai dipenuhi oleh murid kelas 12 yang akan pulang. Tapi, Ara tidak terlalu menghiraukannya. Dia kembali menggambar, meskipun lalu-lalang murid kelas 12 di depannya sedikit mengganggu konsentrasinya.
 Tak disangka, ada lagi hal yang membuat Ara berhenti melakukan penyibukkan dirinya. Ada seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Kemudian memperhatikan Ara, dan melihat tepat ke mata Ara. Ara menyadari dirinya sedang diperhatikan. Dia menengok ke samping, kedua matanya mengatakan bahwa orang yang sedang memperhatikannya itu adalah Kak Farez.
Dua pasang mata yang indah itu saling bertatapan. Seakan-akan tak ada lagi yang perlu diperhatikan. Tapi hanya sejenak. Senyum mengembang pada wajah mereka saat kedua pasang mata mereka tak saling bertatapan lagi. Hal kecil yang berlangsung begitu singkat, tetapi begitu indah bagi mereka berdua.
Ara hampir salah tingkah, begitu juga Kak Farez. Tapi, Kak Farez selalu punya ide untuk meredakannya. Siswa kelas XII IPA 2 itu memang sudah kenal dekat dengan Ara sejak Ara masuk SMA.
“Gambar mulu, Ra. Gambar apa sekarang?” tanya Kak Farez.
“Ih, nanya, masa belum liat sih? Terus dari tadi ngapain?” Ara bertanya balik.
“Liatin mata kamu.” Kak Farez menatap mata Ara lagi.
“Jangan liatin lagi!” Tangan Ara menutup mata Kak Farez.
“Gapapa kali,” Tangan Kak Farez meraih tangan Ara, meletakannya, kemudian mencubit pipi Ara.
“Aw! Jangan nyubit ih!” Ara memukul pelan tangan Kak Farez.
“Lucu. Ngegemesin.” Kak Farez tersenyum. Ara diam, berusaha menahan senyumnya, tapi gagal.
“Kok sendirian? Sengaja? Atau nungguin aku?” tanya Kak Farez.
“Enggak, Kak. Lagi males di rumah, nungguin Nina susulan Bahasa Indonesia. Daripada bengong mending gambar.” jawab Ara.
“Oh, gitu. Aku temenin ya?” pinta Kak Farez.
“Kakak kalo mau pulang duluan juga gapapa kali, kan capek.”
“Nggak. Nggak mau. Nemenin kamu aja ya? Gapapa kan?”
“Gapapa sih, Kak.”
Mereka berdua terdiam sejenak.
“Oh, iya. Ra, ajarin gambar dong.” pinta Kak Farez.
“Mau gambar apa, Kak?” tanya Ara.
“Emm… Gambar mata kamu aja kali, ya.” jawab Kak Farez.
“Kok mata aku?” tanya Ara.
“Gapapa, kan?” Kak Farez bertanya balik.
“Iya gapapa sih, mata Kakak aja ya?”
“Ya udah deh, ajarin.”
“Iya Kakak.” Ara terdiam sejenak. “Oh, iya, Kakak pernah gambar sesuatu, gambar mata misalnya, tapi gambarnya nggak keliatan hidup?”
“Sering. Gambar aja susah gimana bikin keliatan hidup.”
“Sini aku kasih tau caranya.”
“Gimana?”
“Jadi, gambar itu harus dikasih shading atau bayangan supaya gambarnya keliatan hidup. Kan kalo gambarnya jadi kelihatan hidup atau realistis, gambar itu makin bagus.” jelas Ara.
“Ooh, gitu.” Kak Farez menganggukkan kepalanya. “Nanti ajarin aku kasih shading di gambar matanya, ya.”
“Iya Kakak.”
Ara membuka lembar yang masih kosong pada sketchbooknya. Kemudian mengambil tiga pensil dan penghapus dari tempat pensilnya. Setelah itu, dia mengambil tissue dari tasnya.
“Banyak banget, Ra, pensilnya?” tanya Kak Farez.
“Iya, banyak. Soalnya biar ketebalan shadingnya makin bagus. Yang ini HB, 2B, sama 6B.” Ara menunjukkan ketiga pensil itu kepada Kak Farez.
“Terus, tissue buat apa?”
“Tissue itu buat ratain arsiran pensilnya, biar shadingnya keliatan halus.” jelas Ara. “Oh, iya. Ini sketchbook Ara kertasnya agak kasar, shadingnya kurang halus. Kalo mau shadingnya halus, biasanya Ara pake kertas Canson. Itu kertas permukaanya halus, shadingnya jadi halus juga.”
“Nah, pertama, gambar outline matanya dulu, Kakak pasti bisa lah. Oh, iya, pake pensil HB ya.”
Goresan pensil kembali terbentuk di atas sketchbook itu. Kali ini, tangan Kak Farez yang mengatur gerakan pensilnya.
“Setelah itu, hitamkan pupil matanya pake pensil 6B. Arsir juga iris matanya. Hapus sebagian di atas pupil buat refleksi matanya, biar keliatan realistis. Habis itu, blending atau ratakan pake tissue.”
“Arsirnya gimana, Ra? Aku bingung.” tanya Kak Farez.
“Gini nih. Arsir tipis dulu semuanya, terus arsir ulang pinggirnya. Nggak perlu terlalu ditekan pensilnya, ulangi aja dua atau tiga kali, nanti bakal tebel sendiri.” Ara mencontohkannya. “Bisa, kan?”
“Okey.” Kak Farez mengikuti contoh yang diberikan Ara. Kemudian meratakannya dengan tissue. “Udah. Iya ya, rata. Habis ini apa?”
“Nah, ini nih seru. Gambar garis-garis bergelombang di bagian irisnya sampai bagian irisnya penuh sama garis-garis itu. Garis-garisnya ada yang pendek, ada yang panjang juga. Aku contohin dulu aja ya.”
“Okey, ini keren, dan aku bisa.” kata Kak Farez setelah menyelesaikan garis-garis itu.
“Habis ini, beri arsiran di pinggiran bola matanya. Bola mata kan bukan bidang datar, jadi biar keliatan realistis gambarnya harus dikasih shading.” jelas Ara, kemudian memberikan contoh lagi kepada Kak Farez.
“Sekarang, gambar bagian aliran air matanya. Gambar agak hitam dan hapus sedikit sampai putih banget biar kesannya lembab.”
“Bantuin, Ra.” pinta Kak Farez.
“Iya, aku bantuin kok, Kak.”
Dua remaja yang melakukan hal yang disebut penyibukkan diri oleh Ara itu terlihat begitu asyik. Goresan-goresan pensil yang indah menjadi saksi bisu tentang kebahagiaan yang tersirat pada keduanya. Sesekali Kak Farez merasa kesulitan, tangan Ara reflek memegang tangan Kak Farez sampai mereka menyadarinya, kemudian Ara melepasnya. Keduanya tersenyum dan kembali meneruskan penyibukkan diri itu. Hal kecil yang begitu indah.
“Dikit lagi selesai nih!” kata Ara. “Sekarang, kasih bayangan ke sekitar matanya. Terus blending lagi.”
“Akhirnya dikit lagi selesai.” kata Kak Farez.
Tiba-tiba, Ara merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dia merasa ada yang memperhatikan mereka. Begitu juga Kak Farez. Dia merasakan hal yang sama dengan Ara, tapi dia tidak menghiraukannya. Ara melihat ke sekelilingnya. Benar saja, ada seseorang yang berdiri di dekat tangga yang sedang memperhatikan mereka. Seseorang yang tidak asing bagi Ara, tapi selalu membuatnya tidak nyaman.
Orang itu adalah Kak Tya, siswi kelas XI MIA 3 yang membencinya. Dia membenci Ara karena dia iri kepada Ara. Dia tidak suka jika Ara didekati oleh kakak kelas, terutama Kak Farez. Sebenarnya Ara tidak ingin menghiraukannya, tapi itu benar-benar mengusik kenyamanannya.
“Kak, kaya ada yang perhatiin kita deh.” kata Ara, membuat Kak Farez berhenti meratakan arsiran pada gambar yang sedang mereka buat.
“Eh, iya. Aku juga berasa kok, Ra.” Kak Farez mengiyakan.
“Liat tangga deh Kak.” kata Ara. Kak Farez langsung melihatnya.
“Tya. Kurang kerjaan banget itu anak.” nada bicara Kak Farez sinis.
“Ada Kak Tya biasanya ada Kak Erica nih.” Ara menebak-nebak. Kak Erica adalah siswi kelas XI IPS 1, dia sahabat kak Tya.
“Erica lagi. Dua anak itu bener-bener deh, gangguin kita terus.”
“Udah lah Kak, terusin aja gambarnya.”
Benar saja, tiba-tiba Kak Erica muncul dari tangga. Kemudian menemui Kak Tya. Mereka bercakap-cakap sebentar. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi, sesekali mereka menengok ke arah Ara dan Kak Farez. Raut muka mereka terlihat tidak menyenangkan.
Tak lama kemudian, mereka berjalan ke arah Ara dan Kak Farez berada. Ara dan Kak Farez merasa ada hal yang tidak beres akan terjadi, tapi mereka mencoba untuk tenang. Selama mereka tidak melakukan hal yang mengganggu Kak Tya dan Kak Erica, mereka tidak akan salah. Justru yang terjadi sebaliknya, Kak Tya dan Kak Erica sering mengganggu mereka, tapi tidak pernah mau mengakui kesalahannya.
Entah karena kebetulan, atau sudah direncanakan, hal tidak beres itu terjadi. Tas Kak Erica menyenggol Ara dan menjatuhkan sketchbook yang sedang dipegangnya, begitu juga dengan tempat pensil yang berisi alat-alat tulis yang sedang digunakannya. Tempat pensil itu terbuka, benda-benda yang berharga bagi Ara itu kini berserakan di lantai koridor.
“Ups! Sorry. Nggak sengaja.” nada bicara Kak Erica dibuat-buat, seakan-akan tak merasa bersalah. Padahal, terlihat jelas dia melakukan itu dengan sengaja.
Kak Tya mencoba menyembunyikan raut mukanya yang menyiratkan rasa puas saat melihat kejadian itu dengan berpura-pura kaget. Tapi tetap saja, itu tidak cukup menyembunyikannya dari Ara dan Kak Farez.
Kak Farez langsung berdiri, “Oh, Erica. Nggak sengaja, apanya? Ngelakuin kaya gitu nggak sengaja? Bagus deh kalo nggak sengaja. Nggak sengaja sampai kaya gitu, jatuhin barang punya orang sampai berserakan kaya gitu nggak reflek ngambil. Itu sih nggak sengaja menurut Erica ya. Paham kok.” sindir Kak Farez.
“Yah, Kak. Maaf, nggak sengaja, serius. Jangan gitu lah Kak, masih bisa diambil kok.” Kak Erica mengambil barang-barang itu di lantai. “Tya, bantuin ambil!”
“Oh, aku? Iya, tenang aku bantuin.” Kak Tya ikut mengambil barang-barang itu.
“Nggak Kak, jangan. Biar aku aja yang ambil.” kata Ara.
“Ara, nggak usah! Biar mereka aja yang ambil.” Kak Farez mencegah Ara.
“Iya, biar kita aja yang ambil ya, Tya. Nih, udah aku ambilin.” Kak Erica memberikan beberapa pensil yang dia ambil kepada Ara, disusul Kak Tya.
Setelah semuanya beres, Kak Tya dan Kak Erica hampir pergi begitu saja, Kak Farez sedikit membentak mereka.
“Bagus!” seru kak Farez. “Pergi aja langsung. Minta maaf aja belum. Oh, iya. Maafnya mahal. Ara jangan gitu ya, maafnya jangan mahal.” kata Kak Farez.
“Maksudnya apa maafnya mahal? Tadi aku udah minta maaf ya!” kata Kak Erica dengan nada tinggi.
“Sopan dikit bisa?” tanya Kak Farez.
“Yah, Kak. Tadi kan Erica udah minta maaf. Masa cuma gara-gara jatuhin tempat pensil jadi gini? Kan nggak lucu.” kata Kak Tya.
“Kamu juga. Nggak nyadar gangguin Ara terus? Nggak usah bawa-bawa Erica juga.” kata Kak Farez ke Kak Tya.
“Kalian gangguin Ara, sama aja kalian ganggu orang yang lagi ngomong sama kalian.” sambung Kak Farez.
“Maaf Kak, kita nggak ada maksud gitu. Maaf banget Kak. Maaf Ara.” kata Kak Tya dengan nada bicara yang dibuat-buat agar terlihat seperti memelas.
“Iya, maaf Kak. Maaf Ara.” sambung Kak Erica.
“Kak, udah lah. Kalo Kak Tya sama Kak Erica nggak minta maaf juga gapapa. Daripada nggak ikhlas mending jangan.” kata Ara ke Kak Farez.
“Iya Ara.” sahut Kak Farez.
“Ya udah, ngapain kalian masih di sini?” tanya Kak Farez ke Kak Tya dan Kak Erica. Mereka langsung meninggalkan Ara dan Kak Farez.
Ara dan Kak Farez terdiam sejenak. Kak Farez masih kesal, Ara berusaha menenangkannya tapi dia sendiri juga masih agak kesal.
“Biarin aja, Kak. Cuekin aja. Orang kaya mereka mau dibilangin apapun juga percuma. Biarin aja sampai mereka bosen, atau nyesel sendiri.” kata Ara.
“Iya Ara, aku tau. Tapi nggak gitu juga.” Kak Farez masih kesal.
“Udah ih, nggak usah di bahas. Gambarnya tanggung loh, kurang satu step lagi.”
“Ya udah, lanjut aja. Tapi aku nggak mood.”
“Aku yang selesaiin ya. Padahal, ini bagian yang paling seru loh.”
Ara mengambil sketchbook dan pensilnya.
“Eh, jangan deh, aku juga.”
“Yah, gimana Kak?”
“Iya, iya. Selesaiin bareng aja, Ara cantik.” Kak Farez mencubit pipi Ara lagi, Ara hanya melihat Kak Farez, kemudian menjelaskan cara selanjutnya.
“Sekarang, tinggal beri bulu mata. Gambar bulu matanya harus hati-hati. Soalnya kalau ada satu yang salah terus di hapus, yang lain juga bakal kehapus. Gambar bulu matanya dibengkokkan bagian bawahnya. Gambarnya pelan-pelan. Gini, Kak.” Ara menjelaskan sambil memberi contoh. Kemudian Kak Farez mengikutinya.
“Ara, bantuin.” pinta Kak Farez. Hal kecil yang indah itu kembali terjadi.
Goresan pensil yang membentuk helai demi helai bulu mata, deretan bulu mata yang indah terbentuk setelahnya.
“Seru, Ra! Ini paling seru! Keren banget! Aku bisa lagi.” Kak Farez kagum pada gambar itu. “Ini step terakhir kan, berarti selesai dong gambarnya?” tanya Kak Farez.
“Eh, belum. Masih ada satu lagi. Ini bikin gambarnya keliatan makin realistis.” kata Ara.
“Step terakhir, kan? Apa?”
“Iya. Terakhir, beri refleksi bulu mata pada refleksi matanya.”
“Kaya gini?” tanya Kak Farez.
“Iya, selesai Kak.” Ara tersenyum.
“Hah? Selesai ini?”
“Iya, Kak.”
“Bagus ya, gambar kita.” Kak Farez ikut tersenyum. Kemudian kedua pasang mata yang indah itu saling bertatapan lagi.
Goresan-goresan pensil yang menari-nari di atas selembar kertas putih itu kini telah menjadi sebuah karya sederhana, namun indah, dan penuh cerita. Alur goresan yang menyusun bagian demi bagian sketsa mata sampai selesai. Tentu saja sketsa itu terlihat realistis. Sketsa mata yang terlihat hidup itu seakan-akan ikut melihat hal-hal yang terjadi pada sore itu. Sketsa mata itu menjadi saksi bisu begitu manisnya kedekatan Ara dengan Kak Farez. Sketsa mata itu juga menjadi saksi bisu betapa tidak menyenangkannya sikap Kak Tya dan Kak Erica kepada Ara.
Benar memang, setiap gambar menyiratkan sebuah cerita yang ada di dalamnya.
“Ara! Tadi ada apa? Kaya ada yang ribut di sini? Kedengeran dari dalam.” Nina muncul dari balik pintu ruang kantor guru, dan langsung bertanya kepada Ara.
“Nanti aja aku jelasin, udah susulannya Na?” jawab Ara.
“Iya udah. Eh, ada Kak Farez. Syukur deh, jadi ada yang nemenin Ara.” kata Nina.
“Iya, Na.” sahut Kak Farez.
“Udah sore, pulang yuk!” ajak Ara.
“Ayo pulang, lagian mau ngapain lama-lama di sini?” Nina bertanya balik. “Eh, tapi beneran jelasin yang tadi, ya, Ra.”
“Iya Nina, aku jelasin kok serius.” Ara meyakinkan Nina.
Senja itu, langit masih kelabu. Tiga pasang kaki melangkah keluar dari bangunan megah itu. Mereka kembali ke rumah masing-masing. Membuat bangunan itu semakin sepi, tetapi akan ramai kembali esok pagi.

Jumat, 08 November 2013

Hantu Kece

Hal yang paling bikin gue shock berat itu adalah ulangan mendadak yang baru aja gue kerjain. Enggak sulit-sulit banget sih, gue juga udah belajar. Tapi, rasanya ulangan kali ini nguras otak banget. Iya, jelas nguras otak, bikin tangan pegel pula. Soalnya cuma lima, tapi jawabanya enggak main-main, dua halaman full! Sungguh, capeknya!
Gue keluar kelas sambil ngibas-ngibasin tangan gue. Sedangkan temen-temen gue yang absennya genap masuk sambil masang muka was-was gitu deh. Sistem ulangan kali ini pake absen genap-ganjil. Absen ganjil yang dapet giliran pertama. Dan kebetulan nama gue, Farahya Nirina Kitami alias Fara atau Rara ada di urutan kesembilan di kelas IX-5 ini. Ikut giliran pertama deh gue.
Gue duduk di bangku depan kelas sambil ngobrol tentang ulangan tadi bareng temen-temen gue yang sama capeknya kayak gue. Tapi, lama-lama gue nggak konsen ngobrol. Kenapa? Karena gue liat hantu kece. Mata gue nggak bisa lepas liatin dia yang kece badai itu, dan dia juga liatin gue. Tapi sayang banget, waktunya singkat, singkat banget, cuma sedetik! Enggak sih, itu lebay. Bukan sedetik, tapi beberapa detik yang rasanya kayak sedetik. Hantu kecenya pergi. Yaaah. Yang duduk terbengong-bengong di bangku sambil masih terbayang-bayang sama tatapan hantu kece ya ada. Gue. Iya. Hihi...
"Aww!" gue kaget, ada yang nendang kaki gue dari belakang. Tanpa pikir panjang gue langsung nengok ke belakang, "Ya ampun! Han, eh, Radit!"
"Hehehe..." Radit tertawa iseng sambil menatap mata gue. Emaakkk! Kece badai banget ini anak! Tatapannya langsung menerobos hati gue. Yeaaah!
"Kebiasaan deh, lo! Suka nendangin kaki gue. Bikin kaget tau! Nakal, ih!"
Akhir-akhir ini, Radit emang hobi ngagetin gue dengan cara nendangin kaki gue. Enggak sakit sih, cuma bikin kaget. Jadinya kayak menghantui gue gitu deh. Radit juga punya senyuman yang kece badainya horror banget. Karena hobi iseng dan ke-keceannya itu, pemilik nama lengkap Raditya Vino Aldi Santoso kelas IX-2 itu gue sebut sebagai hantu kece.
"Maaf deh, habisnya elo lucu sih kalo dikagetin." Radit duduk di samping gue. Kebetulan temen-temen gue duduknya agak jauh dari gue.
"Iya, iya. Woles aja kali, haha..."
"Oke lah. Eh, lo habis ulangan ya?"
"Iya, ulangan IPS dadakan yang bikin gue capek banget kek gini. Jawabannya panjang-panjang banget lagi, bikin tangan gue pegel." jelas gue. Gue liat, Radit serius banget dengerinnya.
"Aduh, kasian," Radit masang muka ngeledek.
"Nggak usah ngledek gue, emang kenyataannya gini kok. Nah, elo sendiri, gimana? Habis ulangan juga?"
"Enggak, pelajaran biasa sih, disuruh wawancara. Nih, gue bawa alat-alatnya." Radit nunjukkin HP, buku, dan alat tulisnya. "Tapi, selesai nggak selesai buat minggu depan inih. Lagian bentar lagi istirahat kan? Hehe..."
"Yeh, suruh wawancara malah nggak diselesein."
"Hehehe, biarin!"
Gue sama Radit ngobrol ini itu, kalo istilah Jawanya ngalor-ngidul gitu deh. Walaupun sekali-kali Radit dipanggil temennya, tapi tetep aja Radit balik lagi. Dan waktu Radit mau pergi, kedipan matanya nggak lupa dia tunjukkin ke gue. Uwoo! Kecenyaaah pemirsaaah! Bener-bener deh, hantu kece banget!
Bel istirahat membuat satu persatu anak-anak absen genap keluar dari kelas. Rila plangsung menghampiri gue sambil teriak-teriak. Biasa, pemilik nama super panjang, Awarila Hesa Tyana Esfina Putri itu emang suka begitu.
"Raraaa...! Tangan gue pegel!"
"Banyak banget kan jawabannya?"
"Iya, Ra. Soalnya mah dikit, lumayan gampang lagi. Tapi jawabannya, makasih deh!" Rila duduk di samping gue, tentu saja dia liat Radit di sebelah gue. "Eciyeh, lagi PDKT ni yee..." bisik Rila.
"Sssttt! Apaan sih lo? Biasa aja kali,"
Radit kayaknya lagi curi-curi dengar apa yang Rila bisikin sama gue. Gue langsung liatin dia. Bener aja, dia agak salah tingkah gitu. Tapi, hantu kece tatapannya horror banget! Iya, Radit emang jago banget kalo urusan kontak mata. Hantu kece, hantu kece. Hihi...
Yang lagi kaget setengah hidup ya ada. Gue. Iya. Tiba-tiba gue liat Akha lagi liatin gue sama Radit. Oh, NO! Akha liatin gue, lebih tepatnya gue sama Radit dengan begitu tajamnya.
“A, Akha!” gumam gue. Gue beradu mata sama Akha. Dia menatap tajam gue, gue juga menatap dia nggak kalah tajamnya. “La, Rila,” bisik gue sambil nepuk-nepuk lengan Rila.
“Iya?”  Rila keliatan bingung.
“Liat di depan kelas VII-7!”
“Hah? Akha? Lagi ngapain dia disitu?”
“Iya! Lagi liatin gue lah, sama Radit. Noh, liat matanya! Ya ampun, gue harus gimana, La?” gue lumayan panik.
“Bentar lagi juga pergi kali, Ra.” Rila mencoba menenangkan gue.
“Iya, yah. Bentar lagi juga pergi,” gue coba buat menenangkan diri.
Akha itu mantan gue yang lagi deket lagi sama gue. Akhir-akhir ini dia emang lagi perhatian banget sama gue. Dia kayak ngasih gue harapan buat balikan lagi. Tapi, ya namanya aja udah jadi mantan, setengah-setengah gitu lah. Gue sebenernya juga belum bisa lepas dari Akha sih. Susah move on-nya, apalagi dia kan ngasih harapan lagi. Cuma, setelah gue deket sama Radit, kayaknya gue udah ada di ambang keberhasilan move on. Iya, bisa jadi.
Entah karena apa, Akha nggak pergi-pergi dan terus liatin gue sama Radit. Walaupun dia mungkin udah tau kalo gue juga lagi liatin dia. Gue mulai ngrasa nggak nyaman. Gimana enggak? Gue yang lagi asik-asiknya ngobrol sama Radit diliatin terus sama yang namanya Akha. Emangnya gue kayak Nattasha Nauljam sama Jirayu Laongmanee yang kencan diam-diam gitu? Sampai-sampai diliatinnya terlalu menghayati gitu? Paparazzi banget!
“Ra?” Radit tiba-tiba ngagetin gue. Kayaknya dia tau kalo gue lagi liatin seseorang.
“Eh, iya, iya.” gue gugup.
Kayaknya, gue emang harus pergi dulu dari sini. Entah kenapa, gue takut banget sama tatapan tajamnya Akha.
“Eeh, iya! Aduh gue kelupaan itu, La! Ke kelas yuk?” gue pura-pura panik.
"Kelupaan apa?" Rila bingung.
"Itu lah, yang kemaren. Kelas yuk, cepet!" dengan cepat gue berdiri sambil narik tangan Rila. Terus ngasih kode gitu deh, supaya Rila tau maksud gue. Ya, namanya juga modus.
"Eh, Dit, lo nunggu sini dulu atau mau balik ke kelas?" tanya gue.
"Bentar atau lama sih?"
"Nggak tau lho,"
"Ya, gue sini dulu deh. Eh, itu ada Iyan, gue bareng Iyan aja."
"Oke, duluan ya!"
"Iya," Radit berdiri, dia menghampiri Iyan yang lagu duduk di depan kelas IX-6.
Akhirnya, gue berhasil masuk ke kelas dengan alasan yang terlalu jenius yaitu "gue kelupaan itu". Itu apa coba? Padahal gue sama sekali nggak kelupaan apa-apa. Modus. Iya, modus. Modus biar gue bisa masuk kelas dan menghindari tatapan tajam Akha yang begitu menusuk itu. Sebenernya sayang juga sih, lagi asik-asiknya duduk sambil ngobrol bareng Radit, gue terpaksa harus pergi. Kesempatan langka lho ini. Tapi mau gimana lagi, Akha terlalu cerdas bikin gue cemas. Sebelum gue masuk kelas, gue sempatin tengok Akha dulu. Iya, dia masih liatin gue dengan begitu tajamnya. Betah banget sih melototin gue!
"Kenapa sih, Ra?" tanya Rila. Masih agak bingung mungkin ini anak.
"Sumpah deh La, gue enggak betah banget dipelototin sama Akha!" jelas gue dengan sedikit panik.
"Iya, gue juga liat. Elo gimana?"
"Gue malah kayak lagi adu melotot sama Akha. Bikin gue jadi lumayan cemas. Lo tau sendiri kan? Akha lagi deket lagi sama gue. Dia ngasih harapan ke gue, gue juga ngasih harapan ke dia. Tapi, sekarang gue justru deket sama cowok lain. Gue juga masih punya rasa nggak enak sama Akha. Sayangnya, harapan buat Akha itu kayaknya udah mulai terkikis sejak gue deket sama Radit. Aduh, gue bingung La! Gue harus gimana?" jelas gue, masih ditemani rasa panik.
Rila diam, dia kayaknya ikutan bingung. "Aduh, gimana ya? Gini aja, elo lebih suka sama siapa? Radit atau Akha?"
"Nah justru itu, La. Gue bingung, siapa yang bakal gue cintai sepenuhnya? Di satu sisi, gue udah mulai suka sama Radit. Tapi, di sisi lain gue juga belum bisa lepas dari Akha. Aduh La, beneran gue bingung banget!"
"Elo harus nentuin itu sekarang, Ra. Kalo elo emang nggak mau dihantui terus sama Akha.”
“Aduh, gimana ya? Rila, please, gue butuh saran dari elo. Jujur aja nggak apa-apa, daripada guenya bingung terus kek gini.”
“Tapi, kalo menurut gue elo lebih pantes sama Radit. Lagian Raditnya kan udah ngasih elo harapan kan? Kalo dia enggak nyatain itu, kayaknya nggak mungkin. Sedangkan Akha, bukan maksud gue jelek-jelekin dia, tapi, elo kan udah pernah ngrasain kalo sama dia itu gimana. Radit aja lah, Ra.”
Entah kenapa, gue lumayan lega setelah denger saran dari Rila. Emang iya sih, gue pikir, apa yang Rila katakan itu benar. Radit udah ngasih harapan segitu gedenya ke gue, kalo dia cuma PHP, kayaknya enggak mungkin deh. Yang gue tau, Radit itu anaknya baik banget kok. Dari kelas tujuh dia udah jadi sahabat baik gue. Waktu kelas delapan dia juga jadi sahabat yang paling ramah dan nggak sombong dibandingkan sahabat-sahabat gue yang lainnya. Dan sekarang, kelas sembilannya, dia malah ngasih harapan ke gue. Gimana gue enggak bahagia banget coba? Karena dulu, gue pernah suka dia, tapi waktu itu enggak memungkinkan banget. Jadinya sebelum rasa suka itu semakin bertambah besar, gue stop aja. Tapi, semua itu enggak sia-sia. Kenapa? Karena sekarang semua rasa yang terpendam itu dibalas. Iya, gue seneng banget!
Kalo Akha, dia cuma baiknya waktu masih kelas tujuh. Kelas delapannya, beda 180 derajat dari dia yang masih kelas tujuh. Dan waktu kelas delapan awalan, Akha ninggalin gue gitu aja. Enggak mikir apa, gimana usaha gue buat bisa Oh, ya, Akha itu adik kelas gue. Jadi, jangan ditanya kelas sembilannya gimana. Gue udah lulus. Ya, forget it. Sekarang, Akha justru ngasih gue harapan lagi. Dan itu nggak kalah gedenya sama harapan yang dikasih sama Radit. Cuma, Akha kayaknya masih setengah-setengah dengan harapan itu. Dan satu hal yang bener-bener ngusik pikiran gue, Akha udah pernah jadi cowok gue, dan misalnya gue balik lagi sama Akha, apa gue harus ngalamin sakit untuk yang kedua kalinya dari Akha? Enggak! Gue nggak mau.
“Iya, bener La. Elo bener. Gue bakal coba lupain Akha dan coba buat suka sama Radit. Karena kenyataannya gue lebih suka sama Radit. Gue nggak mau ngebohongin perasaan lagi.”
“Oke. Jadi, udah bisa move on kan?” tanya Rila. Kayaknya ini anak agak ngeledek.
“Iya, move on. Move on! Aaa...! Rila, akhirnya gue berhasil!” sorak gue lumayan keras. Kedengeran sampai ke luar kelas mungkin, tapi gue nggak peduli.
“Haha... Iya, iya. Yah, tapi tinggal gue yang belum berhasil move on-nya.”
“Jangan bilang gitu, lo pasti bakal berhasil kok! Gue doain deh biar cepet move on, amin.”
“Iya, amin. Amin, amin. Haha...”
“Eh, tapi, Radit masih diluar nggak yah?” Gue keingetan Radit yang ada di luar kelas sendirian. Eh, bukan, Radit nggak sendirian. Tapi sama Iyan.
“Cie nyariin. Masih lah kayaknya, kan kita nggak lama-lama banget di sini. Kangen ya?” Rila, Rila. Ini anak emang paling jagoan kalo urusan ngeledekin orang.
“Bukan kangen, tapi miss.”
“Enggak beda kali. Ya udah yuk, keluar!” ajak Rila.
Gue sama Rila keluar. Gue berharap banget semoga Radit belum pergi. Dan, yeah! Radit emang belum pergi. Sedangkan paparazzinya udah pergi. Loh? Paparazzi? Iya, Akha itu loh, kayak paparazzi. Entah karena apa, Radit langsung liatin gue dan senyumnya yang kece badai horror itu dia tunjukkin lagi buat gue. Uwoo! Hantu kece banget!
“Eh, udah selesai?” tanya Radit sambil berjalan ke arah gue.
“Iya. Iya, iya. Hehe... Lo masih di sini?” gue agak gugup, deg-degan pula.
“Iya, tenang aja, gue masih di sini kok.” Radit tersenyum lagi. Kali ini dia sambil natap mata gue. Ya ampun, hantu kece! Jenius banget bikin gue salah tingkah sih.
“Yee, emang elo masih di sini.” gue ngasal. Yang penting gue bisa terus lanjutin percakapan ini walaupun agak enggak nyambung dikit, tapi yang penting bisa lanjut terus. Maklum, namanya aja gue yang lagi salah tingkah. Kendaliinya susah.
Gue lanjut ngobrol sama Radit lagi. Sampai akhirnya bel masuk memisahkan kita untuk sementara. Radit balik ke kelasnya, IX-2. Gue sama Rila juga balik ke kelas IX-5. Dan sebelum Radit turun, dia senyum lagi ke gue! Emaakkk! Kece badai horror-horror gimana gitu. Eh, tunggu dulu, bosen ya? Bentar-bentar senyumnya Radit, senyumnya hantu kece, itu lagi, ini lagi. Ya, tapi emang kenyataanya gitu sih. Harap maklum lah ya, namanya aja gue yang lagi kasmaran gitu loh.
Pokoknya mulai sekarang, gue bakal jadi Farahya Nirina Kitami yang serius mencintai dan menyayangi Raditya Vino Aldi Santoso sepenuhnya. Dan mencoba untuk melupakan Akha. Uuhh...! Siang yang membingungkan, tapi indah, tapi nyebelin, tapi asik. Ribet! Pokoknya siang ini siang yang bersejarah deh. Sejarah gue sama hantu kece. Iya, hantu kece yang senyumnya horror banget itu, Radit.

Jumat, 25 Oktober 2013

Penggila Pink


Cerpen ini gue buat dari ide temen gue yaitu Annisa Dwi Ayyuhan. Selamat membaca! ^^


 Penggila Pink

Fasha. Gue biasa dipanggil kayak gitu tiap harinya, padahal itu nggak tercantum dalam deretan nama gue. Loh, kok bisa? Iya, nama gue Deffa Shandwia, dan Fasha itu singkatan dari nama gue. Oh, ya! Lo pada jangan heran ya kalo lihat gue. Kenapa? Karena setiap hari, gue pasti pake benda yang berwarna pink. Itu pasti! Dari tas sekolah sampai jam tangan gue warnanya pink semua. Belum lagi kalo lo lihat seisi kamar gue. Dari mulai cat, seprei sampai barang-barang kecil di kamar gue serba pink deh pokoknya! Ya, walaupun nggak semuanya pink sih, tapi sebagian besar warnanya pink.
Gue emang terobsesi banget sama yang namanya warna pink. Entah sejak kapan, gue suka sama yang namanya warna pink. Sampai semua barang-barang yang gue punya, warnanya harus pink. Iya, itu harus. Lo jangan mikir gue gila karena emang gue tergila-gila sama warna pink. Pokoknya, pink itu warna terindah yang ada di dunia ini, menurut gue gitu.
Teman-teman gue di sekolah juga memberi predikat gue sebagai Miss Pink. Bahkan ada yang manggil gue dengan sebutan Pink. Emang gue penyanyi luar negeri itu apa? Ya, tapi nggak apa-apa sih, selama itu masih berkaitan dengan warna pink.

Sore ini, Mevia sama Shanya lagi main ke rumah gue. Kebetulan gue juga lagi sendirian di rumah. Gue jadi nggak boring. Begitu masuk rumah gue, Mevia langsung ngambil sesuatu dari tasnya. Biasanya sih, dia bawa katalog.
"Fasha! Liat nih katalog fashion terbaru, ada sendal cantik banget! Warnanya pink lagi," seru Mevia dengan hebohnya. Bener aja, dia bawa katalog.
"Mana, mana? Sini-sini cepet gue mau liat!" Gue yang tadinya lagi sibuk sama HP gue, langsung gue tinggalin gitu aja.
"Tuh, bagus kan?" Mevia ngasih katalog itu ke gue.
Gue langsung liat gambar sepatu itu. "Iya, bener, Vi. Gila, ini cantik banget!"
"Gue liat dong!" Shanya duduk di sebelah gue. "Eh, gila! Bener deh ini bagus banget!" Shanya ikut-ikutan heboh.
"Tapi sayang, warnanya cuma pink sama coklat. Nggak ada warna ungu sama hijaunya. Limited edition lagi. Kalau ada kan, kita bisa kembaran bertiga, ya nggak?" kata Mevia.
"Iya bener banget! Tapi ini keberuntungan lo, Sha," lanjut Shanya.
"Iya yah, sayang banget! Hehe... Iya nih, gue seneng banget. Tapi gue belum tentu beli beneran kan?"
"Lah, lo pasti beli beneran! Pasti itu!" Mevia ngotot.
"Ngotot banget lo, Vi?" ledek gue.
"Bukan, bukan ngotot! Gue cuma ngasih opini aja," bantah Mevia.
"Tapi heboh amat ya?"
"Ya, gitu juga boleh lah!" Mevia pasrah.
"Hahahaha..."
Kehebohan ini terus berlanjut. Katalog kali ini memang banyak memuat barang-barang baru yang super kece. Jadi ya, gue sama dua sahabat baik gue ini heboh banget.
Sore yang heboh gara-gara sendal keren di katalog fashion itu cepet berakhir. Mama gue pulang, mereka juga nyusul pulang ke rumah masing-masing karena waktu menunjukkan hampir pukul 5 sore. Tapi katalognya gue minta supaya ditinggal, soalnya gue mau nunjukkin ke Mama, siapa tau Mama mau beliin. Haha, semoga aja deh.
Malemnya, gue melancarkan aksi gue. Gue duduk di depan TV sambil bawa katalog. Volume TV sengaja gue kerasin, tapi guenya justru asik liat-liat katalog, biar menarik perhatian Mama gitu. Hihi...
"Lagi ngapain kamu?" tanya Mama. Bener aja, nggak perlu nunggu lama, Mama udah tertarik sama apa yang gue lakuin kali ini.
"Liat katalog, Ma." jawab gue dengan semangat.
"Katalog apa? Lah, belajarnya kapan? Terus itu TV volumenya dikecilin! Nggak lagi ditonton juga,"
"Katalog fashion, Ma. Mama tenang aja, aku udah belajar kok! Hehe, iyadeh aku kecilin volumenya. Habisnya ini Ma, barang-barangnya bagus banget!" gue ngecilin volume TV, habis itu nunjukin katalognya ke Mama.
Mama duduk di sebelah gue sambil ikut liat katalognya. "Iya, ya, bagus-bagus."
"Nih, Ma, terutama sendal ini, Ma. Bagus banget kan? Warna pink lagi," gue bersemangat banget nunjukkin sendal itu. Berharap Mama mau beliin.
Mama diam sejenak, gue agak harap-harap cemas.
"Kamu pengin?" tanya Mama. Yeay! Mama tau apa yang gue pikirin!
"Hehe... Habisnya bagus sih Ma, warnanya pink juga."
"Iya, iya. Besok atau kapan Mama beliin."
"Hehe... Makasih, Ma,"
Gue bersorak dalam hati. Seneng deh, Mama kali ini lagi pengertian banget ke gue. Bisa tidur nyenyak deh gue malem ini.

Hari ini gue capek banget. Begitu pulang sekolah gue langsung tiduran di kasur. Tapi, kok ini rumah kayak sepi banget ya? Gue ke dapur buat ambil minum. Sepi. Mama juga nggak ada. Lagi pergi kali ya. Tiba-tiba, gue denger suara pintu dibuka. Gue lari ke depan. Oh, ternyata Mama. Bener aja, Mama habis pergi. Tapi, dari mana ya?
"Fasha, Mama beliin sendal tuh! Buka sendiri," Mama meletakkan plastik berisi dus sendal di dalamnya di meja ruang tamu. Jadi, Mama habis beliin gue sendal. Yeay! Asik banget! Mama gue emang Mama yang paling top sedunia!
"Iya, Ma!" gue bersemangat banget buat liat sendal itu. Gue buka secepatnya. Tapi, oh, tidak!
"Mamaaa! Kok sendalnya bukan warna pink sih?"
"Katanya kamu pengin sendal yang kayak gitu?"
"Iya, sih, Ma. Tapi masa warnanya coklat sih? Kan aku sukanya warna pink. Yang pink ada kan?"
"Tapi, kalau menurut Mama, bagusan yang warna coklat."
"Yah, tapi kalo menurut aku bagusan warna pink, Ma. Kalo warna coklat aku nggak mau ah!"
"Nggak mau apa? Nggak mau make?"
"Kan bukan warna pink, Ma. Aku sukanya yang warna pink, nggak suka warna lainnya."
"Kamu itu apa-apanya kok harus warna pink sih? Warna lain juga banyak kok, bagus lagi. Kamu kan udah gede, udah kelas 3 SMP, jangan kayak anak kecil! Maunya ngotot itu-itu aja! Warna coklat kan bagus juga. Yang penting sendalnya kayak gitu kan? Mama udah beliin juga,"
Gue diam. Bete banget rasanya. Udah bete gara-gara sendalnya bukan warna pink, eh malah ditambahin dimarahin sama Mama. Betenya!
"Iya, Ma," kata gue pelan.
Tiba-tiba pintu diketuk. Gue buka pintunya. Ternyata Kak Danty. Gue yang lagi bete, nggak bisa nyapa Kak Danty duluan, kayak yang biasa gue lakuin tiap kali Kak Danty datang.
"Lagi kenapa kamu? Kok kayak lesu gitu?" tanya Kak Danty.
"Habis dibeliin sendal sama Mama, tapi salah warna." jawab gue males-malesan.
"Tuh, adikmu, Dan. Dibeliin sendal cuma salah warna aja, udah gitu." kata Mama.
"Emangnya, salah warna gimana, Ma?"
"Lah itu, maunya Fasha kan warna pink, nah Mama belinya warna coklat. Terus nggak mau make. Padahal yang warna coklat lebih bagus daripada yang warna pink." jelas Mama. Gue cuma diam aja dengerin penjelasan Mama.
"Oh, gitu ya, Ma. Fasha, Fasha," Kak Danty ngacak-acak rambut gue. "Coba liat mana sendalnya?"
"Ini, Kak," gue nunjukkin sendalnya ke Kak Danty.
"Ini kan bagus, Sha! Kok kamu nggak mau make?" tanya Kak Danty sambil nyoba sendal itu.
"Bukan warna pink, Kak," kata gue pelan karena saking betenya.
"Fasha mah, apa-apanya harus serba pink." kata Mama.
Kak Danty diam sejenak, lalu menghela nafas. "Ya udah lah Ma, biarin aja Fasha apa-apanya serba pink selama itu masih wajar. Fasha juga, lain kali jangan kayak gini! Mama kan udah usahain buat beli. Terus, berarti kalau kamu beli apa-apa, wajib beli sendiri."
"Loh, kok wajib sih?" tanya gue spontan.
"Tuh, dengerin dulu Kakak kamu, Sha!" perintah Mama.
"Iya, iya, Ma. Tapi kenapa harus wajib?"
"Iya, bukan wajib deh, tapi harus." kata Kak Danty.
"Sama aja kali Kak,"
"Ya udah, daripada nggak kepake, sendalnya buat Kak Danty aja ya? Lagian cuma kegedean dikit. Boleh kan, Sha?"
"Huft... Iya deh, buat Kak Danty aja." gue membolehkan, walaupun sebenarnya sayang juga sih, tapi warnanya itu lho yang bikin gue males makenya.
"Mama jadi beliin sendal buat Kak Danty, deh." kata Mama.
"Hehe, iya Ma. Makasih, Ma. Makasih juga, Sha, jangan manyun terus!"
"Iya, iya Kak,"
Pada akhirnya, sendal itu harus jadi punyanya Kak Danty. Gue suka banget modelnya, bener-bener bagus. Apalagi kalo warnanya pink. Cantik banget deh! Tapi, itu warna coklat, daripada nggak kepake, lebih baik buat Kak Danty aja walaupun agak kegedean sedikit. Tapi, gue masih pengen yang warna pink. Karena kecintaan dan kegilaan gue sama warna pink itu nggak bakal bisa diganti sama warna lain. Pokoknya gue, Deffa Shandwia nggak bakalan bisa lepas dari warna pink. Iya, itu pasti.

 

Follow Me

Instagram